SHRD Protein Cream Review


Pandemi yang berlangsung hampir 2 tahun bisa bikin aku ga pernah ke salon sama sekali. Selain karena takut untuk keluar rumah, tadinya aku pikir rambut aku akan baik-baik aja karena aku juga jarang styling rambut di rumah. Tapi ternyata kenyataannya berbeda, apalagi hormon menyusui bikin rambut aku semakin rontok. Belum lagi, rambut terlihat kering dan kasar.

Creambath di rumah? Atau maskeran rambut di rumah? Saat punya bayi, mandi tuh jadi sesuatu yang berharga. Bisa mandi dengan tenang dan nyaman aja udah bahagia. Udah ga kepikiran deh buat maskeran rambut. Pengennya sih pakai produk yang praktis dan ga butuh waktu lama. Untungnya aku menemukan produk SHRD Protein Cream untuk mengatasi permasalahan rambutku yang kering dan kasar ini.


 



SHRD merupakan produk rambut yang berasal dari Taiwan. Kepanjangan dari SHRD itu sendiri adalah Shaan Honq / Rosemary & D-panthe Protein Cream. SHRD Protein Cream ini merupakan produk leave in treatment yang berfokus pada perawatan rambut kering, rusak & rontok.

Bahas soal packaging, SHRD Protein Cream dikemas dalam packaging kardus berwarna silver dan di dalamnya menggunakan kemasan jar berwarna hijau. Ukurannya sendiri cukup mungil dengan isi 50ml. Menurutku cukup travel-friendly. Saat tutup jar nya di buka, terdapat penutup plastik bening lagi di dalamnya yang menjaga produk tetap higienis. Produk ini tidak dilengkapi dengan spatula, tapi karena ini produk rambut dan aplikasinya memang harus dengan tangan, jadi sah-sah aja sih.




SHRD Protein Cream memiliki 3 kandungan utama:
- Rosemary
- Sunflower Seed Oil
- Silk Amino Acid Panthenol/Pro Vitamin B5

Klaimnya, produk ini memiliki manfaat untuk:
Menghaluskan & menyegel kutikula sambil mengunci hidrasi & menguatkan rambut
Heat Protector melindungi rambut dari sinar UV dan catokan
Memperbaiki ataupun mencegah rambut bercabang, kekeringan & kusut
Menambah kilau rambut


Kandungan lengkap SHRD Protein Cream, mencakup:
Aqua, Cetyl Alcohol, Stearyl Alcohol, Dimethicone, Polysorbate-20, Cetrimonium Chloride, Glyceryl Stearate SE, Propylene Glycol, Helianthus Annuus Seed Oil, Silk Amino Acids, Rosmarinus Officinalis ( Rosemary) Extract, Panthenol, Mica/Titanium Dioxide, Phenoxyethanol, Methylparaben, Ethylparaben, Propylparaben, Fragrance. 



Teksturnya gimana?
SHRD Protein Cream memiliki tekstur cream yang cukup thick dan sedikit lengket. Cream-nya berwarna putih susu dan terlihat ber-glitter. Aroma creamnya cukup wangi dan tidak terlalu mengganggu, kalo aku sih, nyaman dengan aromanya. Awalnya aku agak bingung dengan cara pakai produk ini karena takut rambut justru jadi lepek, lengket, dan tidak terurai. Tapi setelah tau trik dan cara pakai yang benar, cream ini justru membuat rambutku jadi lebih halus dan terlihat mudah diatur.

SHRD Protein Cream bisa dipakai dalam kondisi rambut yang setengah kering atau setengah basah dan saat rambut kering total. Saat digosok ditangan, teksturnya terasa lengket dan oily. Tangan jadi terasa licin, jadi setelah selesai aplikasi ke rambut, jangan lupa untuk langsung cuci tangan. Untuk menghindari rasa lengket saat digunakan, cukup ambil produk sedikit saja dengan ujung jari, usapkan atau ratakan pada telapak tangan kemudian aplikasikan mulai dari tengah batang rambut hingga ke ujung. Jangan terlalu dekat ke akar rambut ya. Pakailah sedikit demi sedikit, kalau merasa kurang, bisa ditambah sesuai kebutuhan.






Biasanya aku memakai SHRD Protein Cream ini setelah keramas dan kondisi rambut sekitar 80% kering, supaya rambut tidak terlalu terasa licin karena terlalu basah. Perubahannya memang tidak terlihat secara kasat mata tapi aku merasa rambut jauh lebih halus, mudah diatur, dan ga gampang kusut. Jika aku perhatikan lebih teliti, ujung-ujung rambut juga jadi lebih halus, tidak tajam dan kasar seperti ijuk. Serta rambut yang biasanya mengembang terlihat lebih 'jatuh' dan 'nurut'. Saat dicatok, rasanya lebih mudah dan cepat. Hasilnya pun jauh lebih bagus dan rambut juga terlihat sehat. 

Ga cuma aku, adikku juga ikut cobain produk ini. Rambut dia jauh lebih frizzy, helaiannya kasar dan tebal. Dan dia suka banget pakai SHRD Protein Cream ini. Menurut adikku, rambutnya jauh lebih halus dan bikin lebih mudah dicatok. Rambut juga lebih 'nurut' dan ga terlalu ngembang/ frizzy


Keterangan gambar dari kiri ke kanan:

Sebelum pakai SHRD Protein Cream – Setelah rutin pakai selama 2 minggu – Setelah pakai SHRD Protein Cream dan disisir+catok




Kalau lihat foto di atas, sebenarnya basically, rambut aku lurus, tapi karena sering dikuncir atau pakai jedai, jadi suka bergelombang, agak frizzy, dan sering kusut. Setelah pakai selama 2 minggu secara rutin dan saat rambut setengah basah + kering (iya, setiap aplikasi, aku selalu coba pakai 2 kali supaya lebih maksimal), hasilnya rambutku jauh lebih mudah diatur, lebih ‘jatuh’ bahkan saat dicatok dengan sisir catokan (bukan catokan plat) juga jauh lebih mudah dan cepat. 


Gimana, tertarik untuk mencoba SHRD Cream? 
Kamu juga bisa dapetin produk ini di:

Website :
https://bit.ly/3zTzgX6
Instagram :
https://www.instagram.com/shrd.id/

Shopee :
https://shopee.co.id/shrd.id




Regards,

CYNDA



Kembali Langsing Setelah Melahirkan dengan Mamaway Nano Bamboo Korset

 Salah satu yang menjadi kekhawatiranku setelah melahirkan adalah mengembalikan bentuk tubuh atau mendapatkan kembali tubuh yang ideal. Pada kehamilanku yang pertama, berat badanku mengalami penambahan secara drastis hingga 22kg. Menurunkan berat badan dengan aman tanpa mengurangi produksi ASI tentu menjadi impian buatku dan aku pun memutuskan untuk mencoba berbagai cara.

Pasca SC tentunya tidak mudah untuk kembali beraktivitas. Apalagi dokter tidak merekomendasikan aku untuk melakukan aktivitas berat hingga jahitan benar-benar dipastikan aman dan pulih sepenuhnya. Namun, ada banyak hal dan pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan demi merawat si kecil. Bisa dibilang, korset sangat berperan banyak dalam membantuku terbebas dari drama pasca SC dan mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum melahirkan.

Sebelum melahirkan, aku mencari tahu banyak hal mengenai perawatan pasca SC. Selain korset, stagen, dan bengkung pernah masuk dalam barang-barang yang harus aku miliki. Namun, setelah mencari berbagai macam review, ternyata korset lebih direkomendasikan karena kemudahan pemakaiannya. 




Pada hari pertama pasca SC, aku belum boleh berganti posisi demi pemulihan yang lebih cepat. Alhasil, hari pertamaku bersama bayi mungil hanya bisa menyusui dalam posisi tiduran. Makan dan minum obat harus dibantu suami. Ke toilet? Pada hari pertama pasca SC, aku masih dibantu oleh kateter. 

Masuk di hari kedua pasca SC, suster membantuku untuk mulai belajar bangun atau duduk. Karena tidak ada gejala yang berarti (tidak pusing), pada hari itu juga aku bisa langsung mulai belajar untuk berjalan dan mandi, kateter pun sudah dilepas. Wah.. rasanya luar biasa menahan rasa sakit jahitan. Apalagi perut yang sedikit bergelambir setelah melahirkan cukup terasa menekan jahitan yang posisinya tepat dibawah perut.

Hingga akhirnya obgyn yang menanganiku datang ke ruangan untuk memeriksa kondisi jahitanku. Aku pun sedikit menyampaikan keluhan atau rasa sakit dan nyeri yang aku alami karena jahitan yang tertekan posisi perut. Saat itu aku sudah membawa korset sendiri dari rumah, tapi aku justru tidak berani untuk memakainya. Namun, obgyn-ku justru sangat merekomendasikan pemakaian korset untuk mengurangi rasa sakit dan membantu mempercepat agar tubuh kembali ke bentuk semula. Sayangnya, korset merek lain yang aku pakai di awal pasca SC ternyata tidak bertahan lama dan kurang nyaman dipakai karena mudah menggulung/ terlipat. Hingga akhirnya aku mencoba Mamaway Nano Bamboo Korset pasca melahirkan.

Penasaran ga sih dengan korset premium yang satu ini? Aku bahas mulai dari packaging ya!



Mamaway Nano Bamboo Korset dikemas dalam kotak plastik yang agak tebal dan pada bagian terluarnya terdapat kotak karton yang bertuliskan informasi produk. Saat dibuka, korset dibungkus dalam plastik dan terlipat rapi.






Sebagai pengguna baru Mamaway Nano Bamboo Korset, informasi produk pada kemasan sudah cukup lengkap. Mulai dari keunggulan produk, ukuran, cara pemakaian hingga saran pencucian produk. Jadi, aku pun bisa mendapatkan informasi lengkap hanya dari kemasannya. Oh iya, Mamaway Nano Bamboo Korset tersedia dalam 2 ukuran S-M (length 100cm) dan L-XL (length 115cm).




Apa sih yang istimewa dari Mamaway Nano Bamboo Korset? Berbeda dengan korset pada umumnya, Mamaway Nano Bamboo Korset memiliki banyak keunggulan dan sangat cocok digunakan pasca SC, dibuat dengan desain dua lapis. Lapisan pertama (area lebar korset berfungsi menjaga kestabilan area perut) dan lapisan kedua (yang lebih kecil, berfungsi untuk mengencangkan dan support rahim atau uterus).

Mamaway Nano Bamboo Korset terbuat dari serat arang bamboo atau bamboo charcoal yang lembut dan aman untuk kulit. Karena bahannya berpori, korset ini pun memiliki daya serap yang baik, sehingga korset tidak mudah bau dan mencegah berkumpulnya bakteri (antibacterial & anti-odour).






Serat arang bamboo yang digunakan sebagai material utama Mamaway Nano Bamboo Korset ternyata punya fungsi unggulan yang menarik, yaitu terdapat teknologi Far Infrared yang dapat membuang lemak berlebih. Selain itu, korset ini juga sudah tersertifikasi TGA Australia.

Mamaway Nano Bamboo Korset memiliki banyak manfaat, yaitu dapat memperbaiki postur tubuh, mengencangkan otot perut dan kulit, melangsingkan dalam 3 bulan, meredakan sakit punggung dan tulang belakang, dan mengurangi rasa sakit pasca SC.

Ribet pakai Korset?

Kamu akan berubah pikiran saat menemukan Mamaway Nano Bamboo Korset. Korset jaman dulu mungkin identik dengan kancing pengait. Namun, karena Mamaway Nano Bamboo Korset sendiri dirancang untuk kebutuhan pasca melahirkan maka korset ini pun didesain dengan menggunakan fitur Velcro yang dapat menempel kuat pada korset berbahan bamboo tersebut. Pakai korset pun jauh lebih mudah dan irit waktu untuk lepas-pasang korset saat darurat ketika harus mengurus si kecil.
 

Meski diklaim anti bakteri, korset ini juga perlu dicuci berkala. Apalagi jika kamu menggunakan korset langsung menyentuh kulit (bukan di luar kaos/baju). Tentu saja korset jadi kotor karena bersentuhan langsung pada kulit yang mungkin sering berkeringat akibat memakai korset sambal melakukan berbagai macam aktivitas yang melelahkan. Cukup cuci lembut dengan tangan dan tidak perlu disetrika ya!
 

Cara pemakaian Mamaway Nano Bamboo Korset: 






Meski dipakai dengan kencang, Mamaway Nano Bamboo Korset tidak membuatku terasa sesak. Saat dipakai beraktivitas pun, korset ini tidak mudah terlipat atau menggulung ke atas. Sejauh ini, Mamaway Nano Bamboo Korset terasa sangat nyaman dan tidak gatal di kulit serta tidak membuat badan kaku atau susah bergerak. 

Aku lebih suka memakai Mamaway Nano Bamboo Korset ini di luar baju. Selain mudah untuk lepas-pasang, memakai di luar baju juga membuat corset tidak mudah kotor atau basah oleh keringat. Korset ini juga cukup nyaman untuk dipakai saat menyusui, jadi aku ga perlu repot lepas-pasang.

Setelah penggunaan rutin setiap hari selama kurang lebih 2 minggu, memang perubahannya tidak terlalu signifikan, tapi lingkar perut perlahan mulai mengecil. Perut juga tidak terlalu bergelambir/ melorot. Postur tubuh juga jadi lebih tegap. Semoga perutku bisa semakin rata seperti saat sebelum hamil ya!  







Menurutku Mamaway Nano Bamboo Korset ini sangat worth untuk dibeli. Selain manfaat dan keunggulannya, korset juga bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama. Jadi meskipun harganya sedikit lebih mahal dari korset biasa, tentu saja korset dengan bahan serat arang bamboo ini jauh lebih nyaman. Oh iya, kamu bisa membeli Mamaway Nano Bamboo Korset di website atau e-commerce berikut: 


Website

https://id.mamaway.com/

Instagram
https://www.instagram.com/mamawayid/
Shopee

https://shopee.co.id/mamawayid


 Regards,

CYNDA

Instagram

C. Theme by BD.