Pengalaman Periksa Mata untuk Ibu Hamil/ Sebelum Persalinan

 
"Mata minus kan ga bisa lahiran normal"
"Ah,,, jaman dulu ga ada tuh periksa-periksa mata, bisa aja lahiran normal"
"Ah itu mah bisa-bisanya dokter aja, alasan harus periksa mata, cek lab dan lain-lain " (kasarnya; cari cuan)

Ga sedikit aku temuin kalimat-kalimat sejenis ini di forum ibu hamil maupun omongan orang-orang tua jaman dulu. Aku secara pribadi sebenarnya lebih pro dengan perkembangan teknologi dan bidang kedokteran saat ini. Lagian kalau emang  ga bener, buat apa para dokter sekolah/ kuliah lama dan mahal? Ya, kan?

Pemeriksaan yang cukup banyak dalam rangka menuju persalinan tentunya dibuat dengan alasan tertentu, misalnya mendeteksi hal-hal yang kurang baik sedini mungkin dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga. Makanya, kadang aku agak sebal aja dengan pandangan orang kolot yang ga percaya dengan dokter. Padahal kalo sakit, berobatnya ke siapa coba? Ke dokter kan? Eh, tapi ga tau sih kalo masih ada yang percaya tradisional/ alternatif. Intinya, buat apa ada perkembangan teknologi kalau tidak dimanfaatkan dan menunjang pemeriksaan di bidang kedokteran supaya lebih akurat dan tepat sasaran?




Lanjut ke cerita utama ya,

Saat pemeriksaan 12 minggu, aku pernah bertanya pada dokter kandunganku, dr. Purbo "Kira2 saya bisa lahiran normal ga dok? Perlu periksa mata ga?". Lalu dijawab, "Kita usahakan normal ya, pasti bisa normal. Untuk minus mata tidak berpengaruh terhadap persalinan normal, karena yang berpengaruh adalah kondisi tebal tipisnya retina. Boleh aja kalau mau periksa dulu".

Hingga akhirnya pemeriksaan mata saat hamil pertamaku baru terlaksana di minggu ke-34/35. Aku datang ke dokter mata untuk pemeriksaan mandiri/ inisiatif pribadi. Jadi tidak ada surat pengantar dari dokter Purbo walaupun sebenarnya bisa aja minta surat pengantar. Tapi menurutku sama aja kok. Oh iya, fyi lokasi praktek obgyn dan dokter mata yang aku datangi di RS Mitra Keluarga Cibubur ya.

Setelah melewati tahap administrasi seperti biasa, aku mendapat nomor antrian untuk periksa di dokter spesialis mata, yaitu. dr. Diansyah Sp.M. Sekitar 30-45 menit menunggu akhirnya aku dipanggil ke ruangan oleh suster yang berjaga. Aku dan suami pun bergegas menuju ruangan dokter Dian.

Saat di dalam ruangan, dokter Dian menanyakan tujuanku yang aku jawab bahwa aku ingin melakukan pemeriksaan mata sebelum persalinan. Kemudian dokter Dian langsung menanyakan "Tapi penglihatan kamu masih normal kan? Ga melihat bayangan/cahaya terbang-terbang gitu?" 

"Enggak dok"

"Mata kamu minus berapa?" (di sini aku posisinya pakai kacamata)

"Kanan -3.75, kiri -4.5, dan ada silinder dua2nya dok"

"Oke, jadi gini. Sebenarnya pemeriksaan mata dianjurkan untuk yang minusnya tinggi (>-6). sedangkan -3 sampai -6 itu masih kategori medium, dan <-3 itu tergolong rendah. Tapi minus juga tidak berpengaruh pada proses lahiran, karena yang mempengaruhi adalah kondisi retina tipis/tebal. Bisa aja yang minus rendah ternyata retinanya tipis, dan yang minus tinggi justru retinanya bagus. Memang lebih baik jika melakukan pemeriksaan karena saat lahiran nanti kan ada proses mengejan dan tentunya akan ada tekanan pada syaraf-syaraf mata. Jadi, perlu diingat ya, proses lahiran normal itu tidak berpengaruh pada minus mata, melainkan retina".

Kurang lebih seperti itulah penjelasan dokter Dian. Aku cukup senang karena dokter Dian sangat informatif dan menjawab kekhawatiranku. Lalu, pemeriksaan dilanjutkan dengan pengecekan ulang minus mata dan silinder. Dokter dian dan suster memeriksa ukuran mataku dengan auto refraktometer (mirip seperti alat yang ada di optik).

Setelah itu, dilanjutkan pemeriksaan mata dengan funduscopi dilatasi (memeriksa pupil, retina. syaraf mata). Setelah dicek (dengan kondisi mata normal), dokter memberikan obat tetes khusus pada kedua mata yang fungsinya untuk memperbesar pupil agar pemeriksaan retina dapat dilakukan lebih lanjut. Setelah diteteskan aku diminta menunggu di luar ruangan selama 15-30 menit, lalu akan dipanggil kembali.

Setelah 15 menit, suster menemui aku yang sedang duduk menunggu di luar dan meminta izin untuk mengarahkan cahaya senter pada kedua mata. Karena dirasa masih kurang, akhirnya aku diberi obat tetes untuk kedua kalinya dan menunggu lagi. Jujur, obat tetesnya berasa perih banget, pedes, dan aku ga bisa menahan air mata yang keluar.

15 menit kemudian, aku pun masuk kembali ke ruangan dokter dan langsung dilakukan pemeriksaan dengan funduscopi dilatasi. Rasanya super ga nyaman banget, karena satu persatu mataku diperiksa dan dihadapkan pada cahaya yang super terang. Silau dan perih rasanya. Aku harus menatap lurus ke arah cahaya tersebut dan mengikuti arahan dokter untuk melihat ke segala arah. Untuk pemeriksaan kedua mata tersebut mungkin hanya berjalan sekitar 2 menit.

Hasilnya juga langsung diinfokan oleh dokter Dian. Menurut beliau, refleks mata, syaraf dan retinaku masih bagus. Aman untuk proses lahiran normal. Alhamdulillah.... Beliau juga memberikan surat yang berisi ukuran minus dan silinder mataku yang terbaru agar bisa membuat kacamata baru.

Oh iya, efek dari obat tetes tadi akan membuat penglihatan buram sementara (1-3 jam). Efeknya? Aku ga bisa baca chat whatsapp/ tulisan di hp. Asli, semua huruf blur, ga terbaca sama sekali Tapi untuk tulisan besar di jarak jauh masih terlihat walau agak sedikit berbayang.

Biaya periksa yang harus aku bayar totalnya Rp625.000,- dengan rincian:
PM-Auto Refraktometer     Rp145.000,-
PM-Funduscobi Dilatasi     Rp215.000,-
Jasa dokter                        Rp210.000,-
Administrasi                       Rp30.000,-
Sub-charge                        Rp25.000,-


Lumayan ya? Untungnya dicover oleh asuransi suamik. Jadi lumayan tenang soal bayar-membayar periksa ke RS.

Nah, itu dia pengalamanku saat periksa mata sebelum proses persalinan. Kalau kamu ragu, ga ada salahnya kok buat periksa biar lebih tenang dan nyaman menghadapi proses persalinan nanti. Semoga membantu ya.


Regards,
CYNDA






Posting Komentar

Instagram

C. Theme by BD.