1 Tahun Menjalani Long Distance Marriage (LDM)

Genap 1 tahun pernikahan.
Menjalani hari bersama-sama pasangan setiap hari tentu rasanya menyenangkan tapi juga ada kesulitan karena dua kepribadian yang berbeda harus beradaptasi kembali. Bagaimana dengan yang menjalani hubungan jarak jauh? Atau lebih familiar dikenal dengan LDM?

Buat aku, LDM jauh lebih sulit untuk dijalani karena tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan pasangan secara intens. Komunikasi pun hanya terbatas lewat videocall dan chat. Kebiasaan/ perilaku pasangan sehari-hari belum tentu dipahami sepenuhnya. Setelah 6 bulan pernikahan beberapa waktu lalu, aku pun memutuskan untuk ke tempat suami selama 2 minggu. 




Tinggal berdua di kost-an, menyiapkan keperluan suami untuk berangkat kerja dan menyambutnya kembali saat pulang kantor, ternyata menjadi pengalaman baru. Berbeda sekali rasanya. Aku jadi lebih memahami dan mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil suami. Tentu saja tidak terlepas dari pertikaian kecil khas rumah tangga seperti meletakkan baju/cuci piring/makanan kesukaan dsb. Rasanya menyenangkan sekali punya kehidupan berdua. Karena sejak awal menikah, aku diminta untuk tinggal berdua dengan ibu mertua. Yap, menemani ibu mertua karena suamiku adalah anak tunggal yang sedang merantau bekerja.

Ternyata benar ya, sebaik-baiknya mertua, memang lebih nyaman jika kita tinggal berdua bareng suami aja (entah kost atau ngontrak bahkan jika punya rezeki berlebih bisa langsung membeli rumah sendiri), khususnya dari sisi pihak perempuan. Atau at least, tinggal dengan mertua tapi di rumah kita sendiri dengan aturan sendiri yang disepakati bersama suami. Karena akan selalu ada rasa sungkan dan harus mengikuti aturan si empunya rumah saat tinggal di rumah mertua. 

Meski demikian, semuanya kembali lagi pada cara komunikasi yang tepat. Aku dan suami sebisa mungkin berdiskusi tentang hal-hal yang kami inginkan. Sehingga kami bisa menemukan jalan tengah tanpa menyakiti berbagai pihak. Berhenti overthinking juga penting. Supaya aku tidak terpengaruh membayangkan hal-hal yang bisa saja tidak terjadi nantinya dan tidak menciptakan bad vibes untuk diri sendiri.

Satu tahun berjalan, aku juga menyadari, bahwa akan selalu ada banyak omongan buruk di luar sana yang mengomentari urusan rumah tangga orang lain. Sumpah, cuekkin aja omongan orang-orang itu. Haha. Gemes. Kalau aku bisa bersuara dan bersikap bodo amat, mungkin orang-orang yang kepo-an dan suka komentar udah aku semprot. Toh, beberapa dari mereka juga ga punya pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari.

Oh iya, tepat di satu tahun pernikahan ini,  kami juga tidak sabar menanti kehadiran si kecil. Rasanya sangat excited!!! Tapi aku juga bersyukur menjalani kehamilan di masa pandemi ini cukup membuatku memiliki banyak waktu istirahat dan tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang. Tidak perlu juga menghadapi omongan mitos-mitos aneh tentang kehamilan. Hahaha. Satu lagi, ga perlu juga melakukan tradisi nujuh bulanan karena jujur aku ga nyaman untuk menjadi objek + pusat perhatian/ menjalani tradisi tersebut. Apalagi yang harus pakai mandi/siraman. Hehe.

Doakan kami ya!


Regards,
CYNDA

Posting Komentar

Instagram

C. Theme by BD.