Wedding Journey: Proses Mencari Vendor Pernikahan Terbaik


Memilih vendor pernikahan ternyata ga semudah yang dibayangin. Apalagi persiapan acaraku dan Anggi tidak sampai genap 1 tahun, terhitung sejak Lebaran (Juni 2019), persiapanku hanya sekitar 8 bulan saja. Terlihat lama, tapi saat dijalani ternyata terasa cukup singkat.

Mulai dari pencarian gedung. Ingat, dari semua hal yang paling penting saat menyelenggarakan pernikahan adalah gedung yang kamu pilih. Setelah gedung ditentukan, maka kamu bisa mulai mencari tahu vendor-vendor yang merupakan partner dari gedung pernikahanmu. Untuk cerita detail menentukan gedung pernikahan sudah aku bahas dalam postingan berikut: Wedding Journey: Menentukan Tanggal dan Gedung Pernikahan.

Seminggu setelah pertemuan saat Lebaran, tempat pun telah ditentukan, yaitu di Aula Kementerian Ketenagakerjaan RI yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Saat itu, mamaku ingin menggunakan catering favoritnya yang kebetulan merupakan tetangga rumahku di Perumnas Klender, yaitu Katering Mardika.




Kalau soal makanan, Katering Mardika tidak perlu diragukan. Selain variasi makanan yang cukup banyak, harga bervariasi, dan porsinya pun bisa dibilang banyak banget. Aku menggunakan jasa Katering Mardika untuk lamaran. Nah, kebetulan Katering Mardika ini juga rekanan dengan gedung pilihanku. Untuk harga paket standard yang diberikan Mardika (katering, rias busana, dokumentasi, dekorasi, MC resepsi) adalah sekitar 90 jutaan, aku lupa harga tepatnya.

Setelah menemui katering Mardika, aku pun menanyakan vendor-vendor lain yang bekerjasama. Untuk vendor sanggar ada beberapa pilihan: Yusan Griya Pengantin, Sanggar Violetta, dan Risqi Kusumo. Vendor dekorasi: Samara Decoration, dan dokumentasi tersedia dengan paket standar dokumentasi (bukan fotografer/ videografer cinematic) sepaket dengan Sanggar Yusan.

Setelah menemui katering Mardika, aku dan keluargaku langsung menuju ke Sanggar Violetta di Jati Bening. Untuk sanggarnya cukup sempit, kurang nyaman, dan beberapa pakaian yang aku coba ada bagian tile yang robek. Penyimpanan pakaian pun kurang rapih, kayak di ambrekin gantung gitu aja, jadi antar pakaian bisa nyangkut-nyangkut di gantungan. Kebetulan pas aku datang juga lagi ramai, tapi tetep keliatan ga beraturan gitu. Mama dan papaku pun kurang sreg, jadilah kami segera meluncur ke Sanggar Yusan yang ada di Utan Kayu.

Tiba di Sanggar Yusan, terlihat ada sedikit pencerahan. Sanggar ini cukup luas dan nyaman. Pakaian pun tertata rapi. Jika menggunakan paket dengan Mardika, ternyata baju yang didapat adalah paket standar dan tentu saja baju nya kurang 'wah'. Ada banyak yang di upgrade jika ingin menggunakan attire yang lebih mewah dan bagus. Ada penambahan biaya baju akad juga. Aku agak lupa sih, tapi waktu itu kayaknya lumayan banyak yg di-upgrade karena yang didapat di awal memang se-standard dan se-biasa itu. 


Situasi di Sanggar Yusan


Yusan juga berpartner dengan WO (seharga 6/7 juta). Aku pun sudah fitting beberapa baju di sanggar ini. Karena ga mau ribet, akhirnya kami memutuskan untuk langsung DP aja sekalian booking MUA + WO nya juga. Saat itu kami dilayani oleh Mba Ecy yang juga merupakan MUA. Aku liat portfolionya udah bagus, jadi ya udah lanjut aja dengan DP 2 juta di Sanggar Yusan.

Malamnya, kami menuju ke Samara Decoration (pemiliknya adalah teman papa). Hmmm... melihat dekorasinya di Instagram sebenarnya aku pribadi agak kurang yakin. Apalagi pemiliknya bilang belum pernah bikin dekorasi betawi kolonial putih. Tapi katanya bisa menyanggupi dan agar sesuai keinginan, aku bisa memberikan referensi dekorasi yang diinginkan. Tentu saja tidak luput dari penambahan biaya dekorasi sebesar 7juta karena Samara Decoration harus membuat gebyok betawi kolonial baru.

Gimana? Ternyata malah banyak ya penambahan dan hal-hal detail yang belum termasuk dipaket? Aku masih harus mencari vendor musik, MC akad, sanggar tari/ palang pintu jika dibutuhkan, vendor photo booth, dan perintilan lain yang waktu itu belum kebayang banget. Jadinya malah lebih repot. Apalagi akun IG dan website Mardika/ Samara Decoration ga terlalu update. Kami jadi ga punya referensi dan penilaian untuk vendor tersebut. Takut tidak memenuhi harapan. Tapi karena sudah DP jadi aku coba dulu aja.

Namun, kurang lebih 1 bulan kemudian, mamaku pun mencetuskan untuk mengganti vendor dengan Maharani Catering. Pertimbangan mama adalah ingin mencari yang lebih simpel dengan paket all-in. Ga perlu ada penambahan apa-apa lagi, ingin semua beres diurus vendor. Urusan keluarga hanyalah tinggal yang berkaitan dengan saudara saja.

Mamaku pun sudah menghubungi pihak Maharani Catering via telfon sebelumnya. Akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan test food bersama Maharani Catering di Aula Masjid Al-Muhajirin Bekasi.

Cerita Maharani Catering akan aku update di postingan berikutnya ya.

Regards,
CYNDA

1 komentar

  1. Wahh ternyata ada juga toh yg pakai catering cateringnya Mardika :))
    Udah terkenal juga ya. Aku dulu juga pakai Mardika buat tunangan :) kirain cuma terkenal di lingkungan Klender aja :) Aku dulu tinggal di Klender soalnya
    Emang enak banget sih, rasanya pas di lidah :)
    Wah ternyata Cynda meridnya di Bekasi ya.

    BalasHapus

Instagram

C. Theme by BD.