Saturday, December 2, 2017

Sepenggal Cerita di Penghujung Tahun


Mungkin tulisan ini akan sedikit terasa lebih pribadi atau personal.
Setelah sekian lama saya menulis tentang produk-produk kecantikan, saya ingin sedikit bercerita.

Dua tahun lebih sejak meninggalkan dunia perkuliahan. Menjajal diri masuk ke dalam dunia kerja menjadi hal yang baru dan sangat menantang. Pasalnya, jurusan perkuliahan saya tidak mewajibkan mahasiswanya untuk PKL atau magang di perusahaan atau merasakan dunia kerja yang 'modern' seperti pada umumnya. Jika mahasiswa lain bisa magang atau PKL di perusahaan impian mereka, saya dan teman-teman lain justru terjun dan mengabdi pada masyarakat desa selama 2 bulan. Ya, jurusan saya mendidik agar kami menjadi penyuluh/ fasilitator/ atau pihak-pihak yang dapat memihak dan menyampaikan aspirasi masyarakat desa, khususnya petani.



Maka, heran lah teman-teman saya yang melihat saya terjun ke dunia yang saya jalani saat ini. 

Kok bisa?

1. Ga ada yang tahu apa yang terjadi di hari esok. Bahkan tempat kerja saya saat ini benar-benar baru saya kenal dan saya tau saat melamar kerja. (Mohon jangan dihujat. Hahaha)
2. Saya suka kuliah di kampus pertanian. Saya menikmatinya. Tapi tidak untuk mendalami dan menggeluti serta menjalani sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari alias bekerja.
3. Setelah 2 bulan saya terombang-ambing mencari pekerjaan (sejak keputusan bahwa saya lulus sidang, belum wisuda). Saya pun memutuskan bahwa saya akan melamar menjadi penulis. Eh, diterima di Clozette! Padahal saat kuliah saya anti banget masuk organisasi atau komunitas majalah dan nulis-nulis. (Saya melupakan blog yang saya punya selama masa kuliah, terlalu lelah menulis laporan tentang masyarakat yang tidak ada hentinya)

Jika kamu melihat aktivitas harian saya di Instagram atau sosial media lainnya, tentu kamu akan merasa heran dengan yang saya kerjakan. Bukan 1-2 kali saya mendapatkan pertanyaan dari teman-teman saya, misal:
- Cynda kerjanya apa sih? Kok enak banget?
- Lo tuh kerja ga sih? Kok ga pernah di kantor?
- Kerjaan lo tuh dunia entertainment gitu ya?
- Kok lo jalan-jalan mulu sih? 
- Enak banget sih dapet makeup mulu! atau Gimana sih biar bisa di-endorse?

Bahkan saat saya menggeluti bidang ini dan perlahan mendapatkan banyak teman serta gaya hidup yang perlahan berubah, tentu akan selalu ada teman yang melontarkan komentar-komentar kurang asik. Tentu aja, disampaikannya dari belakang. Haha.

Saya sadar. Apa yang saya jalani saat ini bisa saja terlihat 180* dari kehidupan saya saat kuliah. Saya belum bisa berdandan, belum memperhatikan penampilan, tidak punya selera atau padu padan yang baik dalam berpakaian, bahkan cenderung irit. Sebagai anak kos dan punya pacar, tentu saya dan dia lebih suka menyisihkan uang untuk jalan-jalan, nonton, makan, main dibandingkan upgrade my look. Haha. Bukan ekonomi yang menjadi masalah, keluarga saya mampu. Tapi saya sadar kala itu ada 3 orang yang berkuliah, saya, saudara kembar saya, dan abang saya. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk hidup prihatin. Saya sendiri belum begitu aware dengan penampilan, toh meski saya tidak stylish dan tidak berdandan, hidup saya tetap berjalan dengan baik, lulus tepat waktu, IPK 3koma. Huehehe

Lanjut.

Beberapa orang menganggap saya menjadi orang yang sangat berbeda. Saya tidak memungkiri itu. Saya berbeda karena bidang yang saya geluti juga menuntut saya untuk menjadi seperti sekarang. Apalagi saat ini saya memiliki 'daya' dan kemampuan sendiri untuk mendapatkan hal yang saya inginkan. Ini lah yang membedakan saya dengan yang dulu. 

Ada lagi. Saya ingat betul, kalimat-kalimat sengaja/tidak sengaja dari beberapa orang yang sedikit terngiang dan menyinggung pada waktu dulu. Entah mereka menganggap saya tidak gaul, tidak mengerti makeup, kurang pengetahuan, bahkan terkesan agak meremehkan saya.

Terkadang saya berpikir, bahwa yang saya jalani bukan hanya sekedar passion saja. Tapi ada sedikit cambukan dan dorongan dari pengalaman di masa lalu. Hingga akhirnya saya ingin membuktikan dan menunjukkan diri saya bahwa saya bisa menjadi lebih dari yang mereka kira. Saya bisa lebih hebat dari mereka. Lebih hebat dalam arti: hebat dengan kemampuan saya sendiri dengan kegiatan yang saya senangi. Bukan hebat semata-mata menekuni bidang seperti mereka untuk menjadi lebih hebat dari mereka.


ini dia sahabat-sahabat saya yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan dunia perkuliahan


Saya juga ingat betapa saya dianggap begitu sebelah mata. Saya pernah tergabung sebuah grup yang terbentuk untuk berkompetisi untuk mewakili fakultas. Kala itu, anggota dipilih lewat audisi yang dilakukan oleh senior. Saya terpilih, tapi saat bergabung justru terasa diasingkan dan beberapa membicarakan saya dari belakang. Entah apa yang membuat mereka tidak suka. Padahal saya pun tidak dekat, bukan 1 geng, dan sebisa mungkin saya menghindar untuk tidak berinteraksi dengan mereka jika tidak terlalu penting. Aslinya, saya bisa menjadi orang yang sangat pendiam.

Bukan hanya saat itu. Hingga saat ini ada saja yang tetap hobi menyindir pada saya. Toh, kalau mereka tidak suka cukup unfollow aja kan? Padahal ya, padahal, saya aja ga pernah berjumpa kecuali saat reuni atau acara serupa yang diadakan 1tahun sekali. Pasrah...

Begitulah. Semua memang akan selalu seperti itu. Kehidupan tidak akan terlepas dari hal baik dan hal buruk. Keduanya akan terus berdampingan sebagai penyeimbang. Karena hal buruk itu lah yang akan terus memacu saya untuk menjadi lebih baik lagi dan bisa menyingkirkan hal-hal negatif dengan pencapaian saya.

Saya ga mau sok tau. Ga mau sok bijak. Ga mau sok menggurui.
Jadi, saya ga mau bikin quotes ala-ala.

Intinya, teruslah berbuat baik, jadi orang yang baik. Kebaikan akan selalu menghampiri tanpa diduga. Semangat dan terus lakukan yang kamu suka.


Regards,
CYNDA

No comments:

Post a Comment